Suasana Haji Tempo Dulu – merupakan ibadah yang mulia. Setiap muslim sangat menginginkan untuk melaksanakan ibadah tersebut. Ibadah yang membutuhkan keinginan yang kuat dan juga pengorbanan yang besar. Allah Ta’ala telah menjadikannya pilar dari pilar-pilar Islam yang termasuk dalam rukun Islam. Dari zaman dahulu, bahkan sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang dari berbagai negeri berdatangan menuju Mekah untuk melaksanakan haji. Mereka datang untuk meneladani syariat bapaknya para nabi, yaitu Ibrahim shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari tahun ke tahun dan abad terus berganti, manusia kian ramai mengunjungi untuk beribadah di Baitullah al-Haram memenuhi panggilan Allah Robbul a’la. Keadaan dan kondisi pun kian berubah. Lembah Mekah yang tadinya gersang dan sepi itu kian ramai dikunjungi jutaan manusia. Fasilitas yang begitu sederhana dituntut untuk berubah. Dahulu, tiap orang bebas berhaji pada setiap tahunnya. Tapi sekarang umat Islam diharuskan untuk mengantri hingga belasan tahun berikutnya. Dikarenakan jamaah dari tahun ke tahun kian bertambah namun terbatasi dengan batas-batas tanah suci Mekah, Mina, Arafah & lainnya. Pemerintah Arab Saudi mengalami kesulitan untuk membagi kuota kepada masing-masing negara, apabila dengan kuota yang terus bertambah tidak mungkin untuk batas-batas tanah suci yang sudah ditetapkan Nabi harus diubah.

Berikut di bawah ini gambaran Suasana Haji Tempo Dulu pada tahun 1953, tepatnya 64 tahun yang lalu, dengan segala macam pernak-perniknya. Dengan segala kelebihan juga kekurangannya.

Untuk sekarang jamaah haji yang berasal dari negeri yang jauh dapat tiba di kota suci Mekah hanya dalam hitungan jam dengan menggunakan pesawat terbang, tidak demikian dengan mereka para jamaah haji tahun 1953. Mereka harus menempuh perjalan yang memakan waktu berhari-hari bahkan hitungan bulan untuk tiba di tanah suci Mekkah.

Suasana Haji Tempo Dulu - Jemaah Haji Menggunakan Kapal Laut

Suasana Haji Tempo Dulu – Jemaah Haji Menggunakan Kapal Laut

Pada tahun 1953, kebanyakan dari jamaah haji dari berbagai negara datang ke Mekah dengan menggunakan kapal laut. Karena pada saat itu pesawat udara sangat terbatas jumlahnya dan juga sangat mahal, fasilitas penerbangan juga belum memadai, dan belum setiap negara memiliki pelayanan penerbangan menuju tanah suci Mekkah.

Suasana Haji Tempo Dulu - Jemaah Haji Menggunakan Kapal Terbang dari Negara yang dekat

Suasana Haji Tempo Dulu – Jemaah Haji Menggunakan Kapal Terbang dari Negara yang dekat

Bagi jamaah haji yang memiliki kemampuan finansial lebih dan juga jarak tempuh negaranya tidak terlalu jauh dengan tanah suci, maka dapat ditempuh dengan melalui perjalanan udara memakai pesawat angkut jenis short take-off and landing yang dapat dioperasikan pada landasan pendek.

Suasana Haji Tempo Dulu - Transportasi Bus

Suasana Haji Tempo Dulu – Transportasi Bus

Seperti halnya sekarang ini, jamaah haji dahulu juga menggunakan bus untuk alat transportasi antar daerah di Mekkah. Namun dahulu busnya masih terlihat begitu sederhana, armada yang masih sedikit, dan tidak juga secepat sekarang ini. Bahkan sebagian jamaah haji naik di atap bus dikarenakan masih sangat jarang busnya.

Suasana Haji Tempo Dulu - Batas Kota Suci Mekkah

Suasana Haji Tempo Dulu – Batas Kota Suci Mekkah

Lihatlah papan plang di atas yang menandakan batas tanah suci ini, hanya dengan menggunakan papan kecil dan tulisan yang begitu seadanya, plus satu orang yang menjadi penjaga perbatasannya. Sekarang satpam perumahan pun lebih dari satu orang. Bandingkan dengan gerbang batas tanah suci yang sekarang.

Suasana Haji Tempo Dulu - Gerbang Kota Suci Mekkah

Suasana Haji Tempo Dulu – Gerbang Kota Suci Mekkah

Pemandangan bangunan-bangunan rumah masyarakat dan juga perhotelan yang berada di sekitaran Masjid al-Haram, saat ini banyak bangunan-bangunan rumah yang telah dihancurkan dikarenakan tuntutan untuk perluasan masjid al-Haram.

Suasana Haji Tempo Dulu - Pemukiman dan Menara Peninggalan Turki Utsmani

Suasana Haji Tempo Dulu – Pemukiman dan Menara Peninggalan Turki Utsmani

Termasuk menara hasil dari peninggalan Turki Utsmani juga tergusur karena adanya pelebaran masjid al-Haram. Sebelumnya, pemerintah Arab Saudi juga masih mempertahankan menara tersebut agar tidak digusur. Karena mereka mempertimbangkan fitnah yang nantinya akan beredar di dunia Islam apabila tiang Menara tersebut dihancurkan. Namun setelah melakukan beberapa kali pelebaran, pada akhirnya menara tersebut pun digusur juga. Kebijakan ini harus diambil dikarenakan kondisi masjid yang memang sudah tidak lagi memungkinkan untuk menampung para jamaah yang kian hari kian membeludak. Permintaan penambahan kuota yang datang dari berbagai negara untuk jamaah haji yang semakin banyak menjadi alasan untuk diadakannya perluasan masjid. Kesempatan untuk menunaikan rukun Islam yang kelima dan keselamatan bagi para tamu Allah lebih dikedepankan daripada nilai sejarah. Meskipun, kebijakan tersebut tidak lepas dari berbagai sorotan juga kritik, terutamanya yang datang dari mereka para orientalis.

Jalanan Kota Mekkah tempo dahulu dan Menara Turki Utsmani yang Kokoh Berdiri

Jalanan Mekah begitu tampak cukup padat di tahun 1953. Dan menara Utsmani juga masih tampak berdiri kokoh.

Suasana Haji Tempo Dulu – Salah Satu Pintu Masjid al-Haram

Berikut salah satu pintu masuk ke Masjid al-Haram.

Suasana Haji Tempo Dulu - Shalat di Luar Masjid dikarenakan Masjid sudah tidak dapat Menampung lagi jamaah

Suasana Haji Tempo Dulu – Shalat di Luar Masjid dikarenakan Masjid sudah tidak dapat Menampung lagi jamaah

Pada tahun 1953, Masjid al-Haram pun sudah tidak dapat menampung lagi para jamaah haji sehingga sebagian jamah harus melaksanakan shalat di luar masjid.

Suasana Haji Tempo Dulu - Area Tawaf yang masih berlantaikan pasir

Suasana Haji Tempo Dulu – Area Tawaf yang masih berlantaikan pasir

Masjid al-Haram dengan area tawaf dan lantainya yang masih berlantaikan pasir.

Suasana Haji Tempo Dulu - Area Tawaf yang masih lengang

Suasana Haji Tempo Dulu – Area Tawaf yang masih lengang

Suasana di area thawaf yang masih cukup lengang. Dibandingkan dengan zaman sekarang yang sudah begitu penuh, walaupun sudah mengalami beberapa kali perluasan, tempat thawaf masih tetap penuh sesak seolah-olah tidak tersisa sedikit pun ruang.

Suasana Haji Tempo Dulu - Suasana Tawaf Haji Saat Ini

Suasana Haji Tempo Dulu – Suasana Tawaf Haji Saat Ini

Suasana Haji Tempo Dulu – Pintu Ka’bah dan Orang-orang masih diperbolehkan masuk

Salah satu hal yang menarik dari haji pada tahun 1953, jamaah masih diperbolehkan untuk masuk ke dalam Ka’bah. Kalau sekarang bagaimana? Hmm… mencium Hajar Aswad saja terkadang dilakukan hanya dengan menggunakan isyarat karena jamaah akan sedikit mengalami kesulitan meskipun hanya sekedar untuk mendekati ke Ka’bah.

Suasana Haji Tempo Dulu - Suasana Tawaf yang masih lengang

Suasana Haji Tempo Dulu – Suasana Tawaf yang masih lengang

Suasana thawaf yang begitu santai dan lengang.

Suasana Haji Tempo Dulu - aktifitas Perdagangan di luar Masjid

Suasana Haji Tempo Dulu – aktifitas Perdagangan di luar Masjid

Suasana aktivitas perdagangan di luar Masjid al-Haram.

Suasana Haji Tempo Dulu - Pasar di luar Masjidil Haram

Suasana Haji Tempo Dulu – Pasar di luar Masjidil Haram

Para pedagang sedang menggelar lapak dagangan mereka.

Suasana Haji Tempo Dulu - Kuda dan gerobak untuk alat angkut

Suasana Haji Tempo Dulu – Kuda dan gerobak untuk alat angkut

Kuda beserta gerobak kayunya digunakan untuk alat angkut atau transportasi jarak dekat.

Suasana Haji Tempo Dulu - Suasana di Pasar Hewan Qurban

Suasana Haji Tempo Dulu – Suasana di Pasar Hewan Qurban 

Suasana di pasar hewan, masyarakat disana sedang memilih kambing untuk kurban.

Suasana Haji Tempo Dulu - Pasar Hewan

Suasana Haji Tempo Dulu – Pasar Hewan

Tampak pasar hewan.

Suasana Haji Tempo Dulu - Keledai sebagai alat angkut daging Qurban

Suasana Haji Tempo Dulu – Keledai sebagai alat angkut daging Qurban

Keledai juga digunakan sebagai alat angkut hewan kurban.

Suasana Haji Tempo Dulu – Suasana Mabit di Mina tempo Dulu

Suasana saat mabit di Mina, jamaah haji sedang masak sendiri dengan memakai tungku, kayu bakar, juga bahan-bahan yang mereka usahakan sendiri. Kalau sekarang bagaimana? Alhamdulillah fasilitas sudah memudahkan, sudah adanya katering, jamaah pun dapat lebih fokus kepada ibadah dan berdzikir.

Suasana Haji Tempo Dulu – Shalat di dekat parkiran Unta

Jamaah haji melaksanakan shalat di dekat parkiran kendaraan, dengan kendaraan ontanya.

Suasana Haji Tempo Dulu - Jamarah tempo dulu

Suasana Haji Tempo Dulu – Jamarah tempo dulu

Suasana jamarah, begitu lengang tidak butuh pasukan keamanan seperti halnya sekarang. Saat ini, kepadatan sudah pasti terjadi sebelum menuju ke tempat jamarah itu terlihat oleh jamaah.

Suasana Haji Tempo Dulu - suasana sekarang menuju tempat jamarah

Suasana Haji Tempo Dulu – suasana sekarang menuju tempat jamarah

Itulah gambar-gambar yang meninggalkan kenangan pada Suasana Haji Tempo Dulu, di tahun 1953. Ada beberapa hal yang jika dilihat dari perspektif perkembangan zaman sekarang adalah kekurangan transportasi, fasilitas masjid, dan lain sebagainya. Namun dapat juga dianggap sebagai kemudahan dan kelebihan beribadah. Zaman memang telah berubah, kondisi pun telah berganti. Namun kewajiban berhaji tetaplah suatu yang pasti dan harus ditunaikan. Semoga Allah memudahkan niat kita semua untuk dapat menunaikan ibadah haji dengan sesegera mungkin, menunaikan rukun Islam yang kelima, menjadi tamu Allah di baitullah di tanah suci Mekkah. Amin…



Shares