Kisah Hajar Aswad

Kisah Hajar Aswad – Hajar Aswad yang tertanam di bagian sisi selatan Ka’bah dahulunya memiliki diameter sebesar kurang lebih 30 cm. Namun banyak peristiwa yang menimpanya, akhirnya hajar aswad yang sekarang ini hanya tersisa bongkahan kecil sebanyak 8 butir sebesar biji kurma, dibingkai dengan bahan perak. Dalam bingkai tersebut tidak semuanya hajar aswad, butiran hajar aswad hanya tepat berada di tengah-tengah bingkai. Hajar aswad inilah yang banyak disentuh dan dicium oleh jutaan umat Muslim dari seluruh Dunia.

Kisah Hajar Aswad
Kisah Hajar Aswad

Dalam sebuah hadits Nabi Saw diterangkan, bahwasannya hajar Aswad ini merupakan batu mulia, berikut makna redaksi hadits tersebut:

Hajar Aswad turun dari surge, dalam kondisi berwarna lebih putih dari air susu. Kemudian, dosa-dosa anak Adam-lah yang membuatnya sampai berwarna hitam.” (Hadits sahih riwayat at-Tirmidzi. Disahihkan oleh al-Albani sahih sunan at-Tirmidzi no.877)

Rabbani Tour menyediakan manasik Umroh gratis dan terbuka untuk umum, dengan maksud bisa mengedukasi seluas-luasnya kepada masyarakat mengenai tata cara ibadah Umroh. Tentunya tata cara manasik yang sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Rabbani Tour siap memberikan bimbingan dari awal persiapan, saat umroh dan sesudah melaksanakan umroh. Menjadi sahabat Rabbani Tour, anda akan mendapatkan fasilitas-fasilitas juga promo-promo yang telah disediakan. Beberapa promo yang Rabbani Tour sediakan seperti Paket Umroh HEBAT [Hemat dan BersahaBAT] + CAIRO MESIR hanya 25 JUTA. Belum lagi promo Daftar 10 Paket + GRATIS 1 PAKET UMROH.

Kisah Hajar Aswad – Keutamaannya

Kisah Hajar Aswad
Kisah Hajar Aswad

Diantara keutamaan lainnya Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya batu ini akan punya lisan dan dua bibir akan bersaksi bagi orang yang menyentuhnya di hari kiamat dengan cara yang benar.” (Hadits riwayat al-Hakim dan Ibnu Hibban, dan disahihkan al-Albani. Lihat shahihul-Jami’ no.21841)

Juga ada riwayat lain yang menjelaskan, dari Ibnu Umar, saya telah mendengar Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya mengusap keduanya (Hajar Aswad dan Rukun Yamani) akan menghapus dosa.” (Hadits Shahih riwayat an-Nasai. Disahihkan oleh al-Albani. Lihat shahih sunan an-nasai no.2919)

 

 

Hajar Aswad ini pernah dijarah pada tahun 317 H, pada masa pemerintahan al-Qahir Billah Muhammad bin al-Mu’tadhid dengan cara dicongkel dari tempatnya. Sehingga yang awal bentuknya sebongkah besar menjadi bongkahan-bongkahan kecil dikarenakan proses penjarahan tersebut. Kejadian penjarahan tersebut membuat geger di kalangan umat Islam.

Abu Thahir, Sulaiman bin Abu Said al-Husain al-Janabi merupakan tokoh dari golongan Qaramithah. Mereka yang telah melakukan kerusakan dan peperangan terhadap kaum Muslimin. Pengikut-pengikutnya telah melakukan berbagai kejahatan seperti pembunuhan, perampokan dan perusakan rumah-rumah. Kota suci Mekkah dan Masjidil Haram pun tak luput menjadi incaran kerusakan oleh tangan-tangan mereka. Jika terdengar namanya pada masa itu, maka orang-orang akan berusaha melarikan diri agar selamat dari kekejaman mereka. (sumber al-Bidayah wan Nihayah, 11/187)

Alkisah pada tahun 317 H ketika musim haji tiba, rombongan haji yang bertolak dari irak menuju Mekkah yang dipimpin oleh Manshur ad-Dailami akan melaksanakan haji ketika itu. Mereka datang ke Mekkah dengan keadaan selamat, namun ketika tanggal Tarwiyah (8 Zulhijjah) rombongan hajinya diserang tiba-tiba oleh orang-orang Qaramithah (merupakan salah satu sekte dalam Syiah Isma’iliyah), mereka melakukan huru-hara, merampok harta benda dan menghalalkan untuk memeranginya. Ketika itu banyak Jamaah Haji yang menjadi korban kekejaman Qaramithah walau posisi mereka sedang berada di dekat ka’bah.

Abu Thahir yang merupakan pimpinan Qaramithah ini berdiri tepat di depan pintu Ka’bah dengan pengawalan yang ketat, ia hanya menyaksikan korban-korban jamaah haji yang terhunung dan terbunuh oleh pengikut-pengikutnya, tidak ada raut bersalah yang ada hanya kepuasan semata yang sudah tertutup hatinya oleh bisikan syetan. Na’udzubillahi min dzalik

Begitu congkak dan ia pun berkata: “saya adalah Allah, saya bersama Allah, sayalah yg menciptakan makhluk-makhluk dan saya pulalah yang akan membinasakan mereka”

Huru-hara terjadi begitu saja, orang-orang berlarian menyelamatkan diri, namun yang terjadi semuanya menjadi korban pedang kekejaman kaum Syi’ah Qaramithah, menebas jamaah yang sedang berhaji, termasuk para ahli hadits yang menjadi korbannya. Abu Thahir (semoga Allah SWT melaknatnya) juga memerintahkan para pasukannya untuk membuang para jenazahnya ke dalam sumur Zamzam, sebagian lainnya dikubur di tanah haram dan sekitaran Masjidil Haram.

Tidak hanya para jamaah yang dibantai, tapi juga kubah sumur Zamzam ia hancurkan. Pintu ka’bah dicopot dan melepas kiswahnya. Kemudian ia robek-robek kiswah ka’bah di hadapan pasukannya. Ia perintahkan juga pasukannya untuk mencopot talang ka’bah, namun yang terjadi orang suruhannya terjatuh dan mati seketika. Akhirnya Abu thahir mengurungkan untuk mencopot talang tersebut. Dan yang terakhir ia memerintahkan untuk mencongkel Hajar Aswad, maka diambillah Hajar Aswad tersebut oleh kaum Syiah Qaramithah (semoga Allah SWT melaknatnya).

Abu Thahir berteriak lantang di depan orang-orang seraya menantang: “Mana burung-burung Ababil? Mana batu-batu yang dari Neraka Sijjil?”

Hajar Aswad ini sempat berada di tangan Abu Thahir selama 22 tahun lamanya. Berbagai cara Amir Mekkah untuk menebus hajar Aswad tersebut, namun yang terjadi Amir Mekkah beserta keluarga dan pasukannya pun menjadi korban kekejaman Abu Thahir. Hajar Aswad itu dibawa menuju daerah Hajr (Ahsa) merupakan daerahnya Abu Thahir.

Dalam penjelasan Ibnu Katsir, orang-orang Qaramithah itu sebenarnya Kuffar Zanadiqah. Yang berafiliasi kepada regim Fathimiyyun. Pemimpin mereka mempunyai gelar al-Mahdi, yang bernama Abu Muhammad ‘Ubaidillah bin Maimun al-Qadah, yang dulunya adalah seorang yahudi dengan profesi sebagai tukang emas. Kemudian ia mengaku-ngaku telah masuk Islam dan mengakui sebagai keturunan Nabi Muhammad. Ketika itu banyak orang-orang barbar yang mempercayainya, sampai akhirnya ia berkuasa di Negaranya. Orang-orang Qaramithah menjalin hubungan baik dengan mereka, sehingga mereka menjadi terkenal dan semakin kuat.

Kembalinya Hajar Aswad Pada Tahun 339 H

Dikisahkan ketika pengambilan batu Hajar Aswad, orang-orang Qaramithah mengangkut batu tersebut dengan beberapa unta. Namun yang terjadi, punuk-punuk unta tersebut mengalami luka dan sampai mengeluarkan nanah. Namun setelah 22 tahun penjarahan tersebut akhirnya Hajar Aswad dikembalikan. Tepatnya pada tahun 339 H batu Hajar aswad dikembalikan. Kaum Qaramithah berkilah: “kami mengambil batu tersebut berdasarkan atas perintah dan akan mengembalikan dengan dasar perintah orang bersangkutan”

Pada tahun 339 H, sebelum Hajar Aswad itu dikembalikan, orang-orang Qaramithah sempat menggantungkan Hajar Aswad pada 7 tiang masjid Kuffah. Agar orang-orang dapat menyaksikannya, kemudian Abu Thahir menulis ketetapan “kami dahulu mengambil Hajar Aswad atas dasar perintah, dan sekarang kami akan mengembalikannya karena dasar perintah juga, agar pelaksanaan ibadah manasik haji umat menjadi lancar”.

Akhirnya di tahun tersebut Hajar Aswad dikirim menuju kota Suci Mekkah dengan memakai satu tunggangan dan tanpa ada halangan, berbeda ketika penjarahannya yang begitu sulit. Hajar Aswad pun sampai di Mekkah pada bulan Zulkaidah tahun 339 H. semua umat Muslim merasakan kegembiraan yang teramat sangat karena batu Jannah tersebut sudah kembali ke tempatnya.

Demikian sejarah singkat Kisah Hajar Aswad semoga ada manfaat yang bisa diambil.

You might also like More from author